Tipe III : reaksi imun kompleks
Di sini antibodi berikatan dengan antigen dan komplemen membentuk kompleks imun. Keadaan ini menimbulkan neurotrophichemotactic factor yang dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau kerusakan lokal. Pada umumnya terjadi pada pembuluh darah kecil. Pengejawantahannya di kornea dapat berupa keratitis herpes simpleks, keratitis karena bakteri.(stafilokok, pseudomonas) dan jamur. Reaksi demikian juga terjadi pada keratitis Herpes simpleks.
Tipe IV : Reaksi tipe lambat
Pada reaksi hipersensitivitas tipe I, II dan III yang berperan adalah antibodi (imunitas humoral), sedangkan pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T atau dikenal sebagai imunitas seluler. Limfosit T peka (sensitized T lymphocyte) bereaksi dengan antigen, dan menyebabkan terlepasnya mediator (limfokin) yang jumpai pada reaksi penolakan pasca keratoplasti, keraton- jungtivitis flikten, keratitis Herpes simpleks dan keratitis diskiformis
Hipersensitivitas Tipe III
Hipersensitivitas tipe III merupakan hipersensitivitas kompleks imun. Hal ini disebabkan adanya pengendapan kompleks antigen-antibodi yang kecil dan terlarut di dalam jaringan. Hal ini ditandai dengan timbulnya inflamasi atau peradangan. Pada kondisi normal, kompleks antigen-antibodi yang diproduksi dalam jumlah besar dan seimbang akan dibersihkan dengan adanya fagosit. Namun, kadang-kadang, kehadiran bakteri, virus, lingkungan, atau antigen (spora fungi, bahan sayuran, atau hewan) yang persisten akan membuat tubuh secara otomatis memproduksi antibodi terhadap senyawa asing tersebut sehingga terjadi pengendapan kompleks antigen-antibodi secara terus-menerus. Hal ini juga terjadi pada penderita penyakit autoimun. Pengendapan kompleks antigen-antibodi tersebut akan menyebar pada membran sekresi aktif dan di dalam saluran kecil sehingga dapat mempengaruhi beberapa organ, seperti kulit, ginjal, paru-paru, sendi, atau dalam bagian koroid pleksus otak.
Patogenesis kompleks imun terdiri dari dua pola dasar, yaitu kompleks imun karena kelebihan antigen dan kompleks imun karena kelebihan antibodi. Kelebihan antigen kronis akan menimbulkan sakit serum (serum sickness) yang dapat memicu terjadinya artritis atau glomerulonefritis. Kompleks imun karena kelebihan antibodi disebut juga sebagai reaksi Arthus, diakibatkan oleh paparan antigen dalam dosis rendah yang terjadi dalam waktu lama sehingga menginduksi timbulnya kompleks dan kelebihan antibodi. Beberapa contoh sakit yang diakibatkan reaksi Arthus adalah spora Aspergillus clavatus dan A. fumigatus yang menimbulkan sakit pada paru-paru pekerja lahan gandum (malt) dan spora Penicillium casei pada paru-paru pembuat keju.
Hipersensitivitas Tipe IV
Perbesaran biopsi paru-paru dari penderita hipersensitivitas pneumonitis menggunakan mikrograf.
Hipersensitivitas tipe IV dikenal sebagai hipersensitivitas yang diperantarai sel atau tipe lambat (delayed-type). Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan jaringan oleh sel T dan makrofag. Waktu cukup lama dibutuhkan dalam reaksi ini untuk aktivasi dan diferensiasi sel T, sekresi sitokin dan kemokin, serta akumulasi makrofag dan leukosit lain pada daerah yang terkena paparan. Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas tipe IV adalah hipersensitivitas pneumonitis, hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat kronis (delayed type hipersensitivity, DTH).
Hipersensitivitas tipe IV dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori berdasarkan waktu awal timbulnya gejala, serta penampakan klinis dan histologis. Ketiga kategori tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tipe Waktu reaksi Penampakan klinis Histologi Antigen dan situs
Kontak 48-72 jam Eksim (ekzema)
Limfosit, diikuti makrofag; edema epidermidis Epidermal (senyawa organik, jelatang atau poison ivy, logam berat , dll.)
Tuberkulin 48-72 jam Pengerasan (indurasi) lokal Limfosit, monosit, makrofag Intraderma (tuberkulin, lepromin, dll.)
Granuloma 21-28 hari Pengerasan Makrofag, epitheloid dan sel raksaksa, fibrosis Antigen persisten atau senyawa asing dalam tubuh (tuberkulosis, kusta, etc.)
Glukosa Darah
GLUKOSA DARAH
Glukosa yang larut dalam plasma darah berasal antara lain dari :
a. Makanan ( pada keadaan tertentu dari infuse atau suntikan )
b. Glikogenolisis
c. Glukoneogenesis
Glukosa darah berfungsi untuk proses oksidasi dalam sel yang menghasilkan energi, proses glikogenesis dan lipogenesis. Hormon yang mempengaruhi pengaturan gula darah adalah :
1. Insulin
Dihasilkan oleh sel β pankreas dan berefek menurunkan kadar glukosa darah dengan jalan :
• Meningkatkan pengangkutan glukosa ( uptake glukosa ) melalui membran sel ke dalam sel-sel lemak dan sel-sel otot.
• Menghambat fosforilase hati yang merupakan enzim utama terpecahnya glikogen dalam hati menjadi glukosa. Keadaan ini mencegah pemecahan glikogen yang sudah tersedia dalam sel hati.
• Meningkatkan aktivitas enzim glukokinase yang menyebabkan timbulnya fosforilase awal glukosa berdifusi ke dalam sel-sel hati sehingga insulin meningkatkan pemasukan glukosa dari darah oleh sel-sel hati.
• Meningkatkan aktivitas enzim-enzim yang meningkatkan sintesis glikogen termasuk enzim glikogen sintase sehingga meningkatkan penyimpanan glukosa sebagai glikogen.
• Menghambat pelepasan asam lemak dari jaringan adifosa ke dalam sirkulasi darah. Bila tidak ada insulin akan terjadi hidrolisis trigliserida yang disimpan sehingga akan melepaskan banyak sekali asam lemak dan gliserol ke dalam sirkulasi darah.
• Menghambat proses katabolisme protein jadi mengurangi pelepasan asam amino dari sel.
• Menekan kecepatan glukoneogenesis
2. Glukagon
Dihasilkan oleh sel α pankreas dan meningkatkan glukosa darah dengan jalan:
• Meningkatkan proses glukoneogenesis
Glukagon memacu konversi cepat dari asam amino menjadi glukosa sehingga membuat lebih banyak glukosa di jaringan.
• Meningkatkan proses glikogenolisis
• Mengaktifkan lipase sel lemak sehingga meningkatkan persendian asam lemak.
3. Growth hormon
Dihasilkan oleh hipofise anterior dan berefek meningkatkan glukosa darah.
4. Adrenal Corticotropic Hormon ( ACTH )
Dihasilkan oleh hipofise anterior dan berefek meningkatkan glukosa darah.
5. Adrenalin atau epinefrin
Dihasilkan oleh medula adrenal ginjal dan berefek meningkatkan glukosa darah.
6. Somatostatin
Berefek meningkatkan glukosa darah.
7. Cortisol
Berefek meningkatkan glukosa darah.
8. Tiroksin
Berefek meningkatkan glukosa darah karena menaikkan absorbsi glukosa dalam usus.
PROSES PENGATURAN GLUKOSA DARaH SECARA NORMAL :
1. 3-5 % disimpan sebagai glikogen dalam sel hati dan otot.
2. 30-40 % dibongkar menjadi molekul-molekul 3 karbon dan disimpan sebagai lemak.
3. ± 50 % dioksidasi untuk energi dan panas membentuk H2O dan CO2.
Selain itu untuk menbentuk asam-asam amino ( pembentukan protein ). Bila kadar gula darah rendah maka glikogen diubah menjadi glukosa yang dikenal sebagai glikogenolisis.
METODE PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH :
1. Secara kimiawi
a. Secara reduksi
Samogyi Nelson
Filtrat dipanasi pada 1000 C selam 20 menit dengan larutan tembaga tartrat basa sehingga terjadi reaksi oksidasi yang menghasilkan Cu2O.
Jumlah Cu2O yang terbentuk sebanding dengan kadar glukosa. Seterusnya larutan ditambahi larutan arsenomolibdat yang bereaksi asam maka terbentuk ikatan komplek arsenomolibdat biru yang diukur pada 550 nm.
Hagedorn Jensen
Ion-2 ferricyanide yang kuning dalam suasana basa dan panas direduksi menjadi ion 2 ferrocyanide yang tidak berwarna. Ferricyanide direaksikan berlebihan, sesudah reaksi dengan glukosa sisa ferricyanide ditentukan dengan Iodometri.
Folin Wu
Protein darah diendapkan dengan cara Folin Wu. Pada akhirnya larutan ditambahi larutan Phosphomolibdat membentuk ikatan molibdenum yang berwarna biru dan diukur pada 420 nm.
b. Secara kondensasi dengan pembentukan senyawa complex yang berwarna
O-Toluidin
Beberapa senyawa aromatik bereaksi dengan glukosa dalam asam asetat panas dan menghasilkan turunan-turunan berwarna. O-Toluidin berkondensasi dengan gugus aldehyde dari glukosa menghasilkan suatu reaksi keseimbangan dengan glikosilamine dan basa Schiff.
2. Secara enzimatik
Contoh : GOD-PAP
Prinsip pemeriksaan :
Glukosa oleh enzim glukosa oksidase akan diubah menjadi glukonic acid dan H2O2.H2O2 yang terjadi dengan adanya enzim peroksidase akan diubah menjadi H2O+On. On yang terbentuk akan bereaksi dengan asam amino antipirin dan 2-dichlorophenol membentuk suatu senyawa yang berwarna merah.
Pada pemeriksaan enzimatik ini akan membentuk hasil yang lebih rendah bila dibandingkan dengan cara kimiawi karena pada enzimatik yang diukur adalah glukosa murni.
BAHAN PEMERIKSAAN UNTUK GLUKOSA DARAH :
1. Darah / kapiler dari ujung jari tangan atau kaki.
2. Plasma / serum
Plasma / serum harus segera dipisahkan dari sel-sel darah dalam waktu 30 menit setelah pengambilan darh.
Tetapi bahan yang paling baik untuk pemeriksaan glukosa ini adalah plasma karena :
a. Kadar glukosa dalam plasma lebih stabil ( pada serum kemungkinan hemolisa meningkat )
b. Menyimpan plasma jauh lebih mudah daripada menyimpan Whole Blood demikian juga waktu mengerjakannya.
c. Hematokrit Whole Blood cenderung memberikan pengaruh yang bervariasi atas hasil analisa. Bahkan pada beberapa cara kerja protein tidak perlu dihilangkan bila plasma digunakan sebagai bahan.
SUMBER UTAMA KESALAHAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH :
Terjadi glikolisis karena penundaan pemeriksaan ( pemeriksaan temperatur kamar dalam waktu 1 jam kadar glukosa akan menurun sebesar 5 – 10 mg/dl). Glukosa akan terurai menjadi asam laktat. Peruraian ini tetap berlangsung walaupun darah diambil dengan cara steril. Untuk menghindari terjadinya glikolisis dapat dilakukan :
Pisahkan segera plasma dari eritrosit.
Disimpan dalam almari es 2 – 4 0 C
NaF dapat mencegah glikolisis karena itu sebagai antikoagulan sebaiknya gunakan campuran 1 bag NaF dan 3 bag K-OX. Dengan menggunakan antikoagulan ini darah dapat disimpan selama 2-3 hari dan dengan cara ini darah dapat dikirim ke tempat-tempat yang jauh. Penambahan antikoagulan ini jangan sampai berlebihan sebab menganggu pemeriksaan.
HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PEMERIKSAAN :
1. Bila menggunakan darah lengkap harus secepat mungkin dilakukan paling lama 1/2 jam karena pada suhu kamar glukosa darah akan berkurang 5 % tiap jamnya dan dalam almari es akan berkurang 1,5 % tiap jam.
2. Darah dan anticoagulant pada suhu kamar tertentu selama 8 jam, di almari es 48 jam.
3. Apabila mungkin Whole Blood sebaiknya menggunakan darah vena bukan darah kapiler. Karena darah akpiler dalam keadaan puasa akan memberikan hasil 2-3x lebih besar dari darah vena.
4. Untuk pemeriksaan sebaiknya digunakan plasma karena tidak tergantung dari nilai hematokrit.
Glukosa yang larut dalam plasma darah berasal antara lain dari :
a. Makanan ( pada keadaan tertentu dari infuse atau suntikan )
b. Glikogenolisis
c. Glukoneogenesis
Glukosa darah berfungsi untuk proses oksidasi dalam sel yang menghasilkan energi, proses glikogenesis dan lipogenesis. Hormon yang mempengaruhi pengaturan gula darah adalah :
1. Insulin
Dihasilkan oleh sel β pankreas dan berefek menurunkan kadar glukosa darah dengan jalan :
• Meningkatkan pengangkutan glukosa ( uptake glukosa ) melalui membran sel ke dalam sel-sel lemak dan sel-sel otot.
• Menghambat fosforilase hati yang merupakan enzim utama terpecahnya glikogen dalam hati menjadi glukosa. Keadaan ini mencegah pemecahan glikogen yang sudah tersedia dalam sel hati.
• Meningkatkan aktivitas enzim glukokinase yang menyebabkan timbulnya fosforilase awal glukosa berdifusi ke dalam sel-sel hati sehingga insulin meningkatkan pemasukan glukosa dari darah oleh sel-sel hati.
• Meningkatkan aktivitas enzim-enzim yang meningkatkan sintesis glikogen termasuk enzim glikogen sintase sehingga meningkatkan penyimpanan glukosa sebagai glikogen.
• Menghambat pelepasan asam lemak dari jaringan adifosa ke dalam sirkulasi darah. Bila tidak ada insulin akan terjadi hidrolisis trigliserida yang disimpan sehingga akan melepaskan banyak sekali asam lemak dan gliserol ke dalam sirkulasi darah.
• Menghambat proses katabolisme protein jadi mengurangi pelepasan asam amino dari sel.
• Menekan kecepatan glukoneogenesis
2. Glukagon
Dihasilkan oleh sel α pankreas dan meningkatkan glukosa darah dengan jalan:
• Meningkatkan proses glukoneogenesis
Glukagon memacu konversi cepat dari asam amino menjadi glukosa sehingga membuat lebih banyak glukosa di jaringan.
• Meningkatkan proses glikogenolisis
• Mengaktifkan lipase sel lemak sehingga meningkatkan persendian asam lemak.
3. Growth hormon
Dihasilkan oleh hipofise anterior dan berefek meningkatkan glukosa darah.
4. Adrenal Corticotropic Hormon ( ACTH )
Dihasilkan oleh hipofise anterior dan berefek meningkatkan glukosa darah.
5. Adrenalin atau epinefrin
Dihasilkan oleh medula adrenal ginjal dan berefek meningkatkan glukosa darah.
6. Somatostatin
Berefek meningkatkan glukosa darah.
7. Cortisol
Berefek meningkatkan glukosa darah.
8. Tiroksin
Berefek meningkatkan glukosa darah karena menaikkan absorbsi glukosa dalam usus.
PROSES PENGATURAN GLUKOSA DARaH SECARA NORMAL :
1. 3-5 % disimpan sebagai glikogen dalam sel hati dan otot.
2. 30-40 % dibongkar menjadi molekul-molekul 3 karbon dan disimpan sebagai lemak.
3. ± 50 % dioksidasi untuk energi dan panas membentuk H2O dan CO2.
Selain itu untuk menbentuk asam-asam amino ( pembentukan protein ). Bila kadar gula darah rendah maka glikogen diubah menjadi glukosa yang dikenal sebagai glikogenolisis.
METODE PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH :
1. Secara kimiawi
a. Secara reduksi
Samogyi Nelson
Filtrat dipanasi pada 1000 C selam 20 menit dengan larutan tembaga tartrat basa sehingga terjadi reaksi oksidasi yang menghasilkan Cu2O.
Jumlah Cu2O yang terbentuk sebanding dengan kadar glukosa. Seterusnya larutan ditambahi larutan arsenomolibdat yang bereaksi asam maka terbentuk ikatan komplek arsenomolibdat biru yang diukur pada 550 nm.
Hagedorn Jensen
Ion-2 ferricyanide yang kuning dalam suasana basa dan panas direduksi menjadi ion 2 ferrocyanide yang tidak berwarna. Ferricyanide direaksikan berlebihan, sesudah reaksi dengan glukosa sisa ferricyanide ditentukan dengan Iodometri.
Folin Wu
Protein darah diendapkan dengan cara Folin Wu. Pada akhirnya larutan ditambahi larutan Phosphomolibdat membentuk ikatan molibdenum yang berwarna biru dan diukur pada 420 nm.
b. Secara kondensasi dengan pembentukan senyawa complex yang berwarna
O-Toluidin
Beberapa senyawa aromatik bereaksi dengan glukosa dalam asam asetat panas dan menghasilkan turunan-turunan berwarna. O-Toluidin berkondensasi dengan gugus aldehyde dari glukosa menghasilkan suatu reaksi keseimbangan dengan glikosilamine dan basa Schiff.
2. Secara enzimatik
Contoh : GOD-PAP
Prinsip pemeriksaan :
Glukosa oleh enzim glukosa oksidase akan diubah menjadi glukonic acid dan H2O2.H2O2 yang terjadi dengan adanya enzim peroksidase akan diubah menjadi H2O+On. On yang terbentuk akan bereaksi dengan asam amino antipirin dan 2-dichlorophenol membentuk suatu senyawa yang berwarna merah.
Pada pemeriksaan enzimatik ini akan membentuk hasil yang lebih rendah bila dibandingkan dengan cara kimiawi karena pada enzimatik yang diukur adalah glukosa murni.
BAHAN PEMERIKSAAN UNTUK GLUKOSA DARAH :
1. Darah / kapiler dari ujung jari tangan atau kaki.
2. Plasma / serum
Plasma / serum harus segera dipisahkan dari sel-sel darah dalam waktu 30 menit setelah pengambilan darh.
Tetapi bahan yang paling baik untuk pemeriksaan glukosa ini adalah plasma karena :
a. Kadar glukosa dalam plasma lebih stabil ( pada serum kemungkinan hemolisa meningkat )
b. Menyimpan plasma jauh lebih mudah daripada menyimpan Whole Blood demikian juga waktu mengerjakannya.
c. Hematokrit Whole Blood cenderung memberikan pengaruh yang bervariasi atas hasil analisa. Bahkan pada beberapa cara kerja protein tidak perlu dihilangkan bila plasma digunakan sebagai bahan.
SUMBER UTAMA KESALAHAN PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH :
Terjadi glikolisis karena penundaan pemeriksaan ( pemeriksaan temperatur kamar dalam waktu 1 jam kadar glukosa akan menurun sebesar 5 – 10 mg/dl). Glukosa akan terurai menjadi asam laktat. Peruraian ini tetap berlangsung walaupun darah diambil dengan cara steril. Untuk menghindari terjadinya glikolisis dapat dilakukan :
Pisahkan segera plasma dari eritrosit.
Disimpan dalam almari es 2 – 4 0 C
NaF dapat mencegah glikolisis karena itu sebagai antikoagulan sebaiknya gunakan campuran 1 bag NaF dan 3 bag K-OX. Dengan menggunakan antikoagulan ini darah dapat disimpan selama 2-3 hari dan dengan cara ini darah dapat dikirim ke tempat-tempat yang jauh. Penambahan antikoagulan ini jangan sampai berlebihan sebab menganggu pemeriksaan.
HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PEMERIKSAAN :
1. Bila menggunakan darah lengkap harus secepat mungkin dilakukan paling lama 1/2 jam karena pada suhu kamar glukosa darah akan berkurang 5 % tiap jamnya dan dalam almari es akan berkurang 1,5 % tiap jam.
2. Darah dan anticoagulant pada suhu kamar tertentu selama 8 jam, di almari es 48 jam.
3. Apabila mungkin Whole Blood sebaiknya menggunakan darah vena bukan darah kapiler. Karena darah akpiler dalam keadaan puasa akan memberikan hasil 2-3x lebih besar dari darah vena.
4. Untuk pemeriksaan sebaiknya digunakan plasma karena tidak tergantung dari nilai hematokrit.
Pengertian website dan contohnya
A. PENGERTIAN WEBSITE ATAU SITUS.
Website atau situs dapat diartikan sebagai kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink).
Bersifat statis apabila isi informasi website tetap, jarang berubah, dan isi informasinya searah hanya dari pemilik website. Bersifat dinamis apabila isi informasi website selalu berubah-ubah, dan isi informasinya interaktif dua arah berasal dari pemilik serta pengguna website.
Contoh website statis adalah berisi profil perusahaan, sedangkan website dinamis adalah seperti Friendster, Multiply, dll. Dalam sisi pengembangannya, website statis hanya bisa diupdate oleh pemiliknya saja, sedangkan website dinamis bisa diupdate oleh pengguna maupun pemilik.
Website pertama kali ditemukan oleh sir timothy john,Tim burners lee pada 1991. Dengan tujuan untuk mempermuadah tukar menukar informasi dan memperbaharui informasi bersama sesame peneliti ditempat mreka bekerja.
Website atau situs dapat diartikan sebagai kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink).
Bersifat statis apabila isi informasi website tetap, jarang berubah, dan isi informasinya searah hanya dari pemilik website. Bersifat dinamis apabila isi informasi website selalu berubah-ubah, dan isi informasinya interaktif dua arah berasal dari pemilik serta pengguna website.
Contoh website statis adalah berisi profil perusahaan, sedangkan website dinamis adalah seperti Friendster, Multiply, dll. Dalam sisi pengembangannya, website statis hanya bisa diupdate oleh pemiliknya saja, sedangkan website dinamis bisa diupdate oleh pengguna maupun pemilik.
Website pertama kali ditemukan oleh sir timothy john,Tim burners lee pada 1991. Dengan tujuan untuk mempermuadah tukar menukar informasi dan memperbaharui informasi bersama sesame peneliti ditempat mreka bekerja.
Imuno serologi (imunisasi)
IMUNISASI
A. Definisi
Tindakan dengan sengaja memasukakan bahan (memasukkan vaksin/serum) ke dalam tubuh seseorang dengan tujuan orang tersebut menjadi kebal terhadap suatu penyakit infeksi
B. Bahan yang diberikan
1.vaksin.
Kuman atau virus yg sudah dilemahkan atau dihilangkan sifat virulenya dengan membiarkan pada medium tidak wajar.
Bahan bersifat racun (eksotoksin) yang dihasilkan kuman yang telah dihilangkan sifat racunnya melalui pencampuran dengan bahan kimia tertentu,pemansan atau penyimpanan lama
2.Serum imun
Serum yang berasal dari hewan atau manusia yang mengandung antibody tertentu.
Serum imun homolog: serum imun yang berasal dari manusia yang sudah kebal terhadap infeksipenyakit tertentu.
C. Cara pemberian imunisasi
1.perinjeksi
a. Intrakutan (ic) :vaksin BCG
b. Subkutan (sc) :vaksin campak(diberikan pada usia 9 bulan)
C. Intramuskuler (im):vaksin DPT, Vaksin hepatitis
2.Peroral
Ex:vaksin polio (polio sabin)
A. Definisi
Tindakan dengan sengaja memasukakan bahan (memasukkan vaksin/serum) ke dalam tubuh seseorang dengan tujuan orang tersebut menjadi kebal terhadap suatu penyakit infeksi
B. Bahan yang diberikan
1.vaksin.
Kuman atau virus yg sudah dilemahkan atau dihilangkan sifat virulenya dengan membiarkan pada medium tidak wajar.
Bahan bersifat racun (eksotoksin) yang dihasilkan kuman yang telah dihilangkan sifat racunnya melalui pencampuran dengan bahan kimia tertentu,pemansan atau penyimpanan lama
2.Serum imun
Serum yang berasal dari hewan atau manusia yang mengandung antibody tertentu.
Serum imun homolog: serum imun yang berasal dari manusia yang sudah kebal terhadap infeksipenyakit tertentu.
C. Cara pemberian imunisasi
1.perinjeksi
a. Intrakutan (ic) :vaksin BCG
b. Subkutan (sc) :vaksin campak(diberikan pada usia 9 bulan)
C. Intramuskuler (im):vaksin DPT, Vaksin hepatitis
2.Peroral
Ex:vaksin polio (polio sabin)
Langganan:
Komentar (Atom)




